Laporan : Rapat Pesta Rakyat

Dalam menyambut hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-74, masyarakat desa Sialang Pasung bersama dengan Pemuda dan mahasiswa KKN Tematik UNRI mengadakan rapat dan musyawarah desa terkati dengan perlombaan dan kepanitiaan yang akan dibentu untuk memeriahkan hari kemerdekaan ini.

Mahasiswa KKN Tematik UNRI ikut turut andil dalam kepanitiaan yaitunya sebagai sekretaris dan juri perlombaan. Beberapa diantara perlombaan yang diadakan adalah; sampan layar, sepak takraw, karaoke, voli, sepak bola dan banyak macam perlombaan lainnya.

Flyer yang dibuat oleh Mahasiswa KKN Tematik UNRI
Sekretaris desa, ketua pemuda dan mahasiswa KKN Tematik UNRI
Penulisan jenis perlombaan
Masyarakat yang menghadiri rapat.

Laporan :Kegiatan Posyandu Desa Sialang Pasung

15-16 Juli 2019

Kelompok KKN Tematik UNRI terdiri dari 10 Mahasiswa dengan jurusan yang berbeda, dari Hubungan Internasional, Pendidikan Biologi, Teknologi Hasil Perikananm Hukum, dan juga Kedokteran. Masing-masing mahasiswa memiliki keterampilan dan pengetahuan khusus yang berbeda, berdasarkan jurusan masing-masing. Mahasiswa Hubungan Internasional dan Hukum bertanggung jawab atas program kerja pengembangan keterampilan berbahasa, mahasiswa Pendidikan Biologi bertanggung jawa atas Penyuluhan Pembuatan Kompos, mahasiswa Teknologi Hasil Perikanan bertanggung jawa atas pengolahan ikan berupa nugget dan bakso sedangkan mahasiswa Kedokteran bertugas dalam hal-hal seperti penyuluhan pola hidup bersih dan Sehat serta Posyandu.

Posyandu di Sialang Pasung diaddakan selam dua hari yaitu pada tanggal 15-16 juli 2019. Dengan bantuan mahasiswa KKN Tematik UNRI yang mengabdi ketika itu.

Posyandu hari I (15 Juli 2019)

Laporan : Pembaharuan Plang Selamat Datang

Ketika mengunjungi sebuah daerah, yang pertama kali kita lihat adalah plang ataupun tanda selamat datang, dalam hal ini Mahasiswa KKN Tematik UNRI di Sialang Pasung menjadikan pembaharuan plang selamat datang sebagai salah satu program kerja. Program kerja ini merupakan salah satu usaha Mahasiswa KKN Tematik UNRI untuk membantu mengolah dan mengembangkan potensi desa Sialang Pasung sesuai dengan tujuan Kuliah Kerja Nyata Tematik Universitas Riau berbasis Pengembangan potensi Desa. Program ini dilaksanakan selam 4 Minggu, dimulai pada hari Kamis, 11 Juli 2019 hingga diresmikan pada 10 Agustus 2019.

Pengecatan Ulang Plang Selamat Datang
Pembuatan Plang Selamat Datang
Berfoto bersama Bapak Sekretaris Desa
Berfoto bersama bapak Sekretaris Desa
Pemasangan Sticker Logo KKN Tematik Sialang Pasung oleh Koordinator Desa

Laporan : Menghadiri Undangan Desa

Desa Sialang Pasung masih kental dengan adat istiadat melayunya. Musyawarah, pernikahan, melayat, Shalat dan mengaji bersama, gotong royong dan banyak kegiatan lainnya melibatkan semua masyarakat begitupun mahasiswa KKN Tematik UNRI yang ketika itu mengabdi di desa.

Tahlilan dan Musyawarah Dusun 4 ( 11 Juli 2019)
Tahlilan dengan Ibu-Ibu (20 Juli 2019)
Tahllilan di dusun 4 ( 7 Juli 2019)
Rewang (6 Agustus 2019)

Laporan : Kunjungan Ke Sekolah SDN 03 Sialang Pasung dan Rumah Warga

8-12 Juli, 16 Juli 2019 dan 11-12 Agustus 2019

Program KKN memiliki tujuan untuk mengasah dan mengembangkan kemampuan Mahasiswa dengan secara langsung terlibat dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Mengaplikasikan apa yang sudah dipelajari dari bangku perkuliahan serta mendapat keterampilan dan pengalaman yang mungkin tidak dipelajari secara umum. Karenanya, kerjasama anata Mahasiswa dengan masyarakt setempat sangat diperlukan agar terciptanya suatu pencapaian yang maksimal dan optimal. Mahasiswa KKN Tematik UNRI desa Sialang Pasung mengadakan kunjungan serta tamu ramah ke rumah-rumah warga untuk menjalin silaturrahmi dan memohon arahan serta bantuan selama masa mengabdi di desa Sialang Pasung,

Berkunjung ke Rumah Ibu Sekretaris Kecamatan (8 Juli 2019)
Berkunjung ke rumah Warga (8 Juli 2019)
Berkunjung ke Rumah Warga (9 Juli 2019)
Kunjungan ke Sekolah (16 Juli 2019)
Silaturrahmi dalam Rangka Hari Raya Idul Adha (11 Agustus 2019)

Laporan : Kegiatan Kembali Ke Surau

Minggu

Salah satu program mahasiswa KKN Tematik di Desa Sialang Pasung adalah Kembali ke Surau yang bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan dan pemahaman terhadap ilmu agama. Agenda ini ditujukan kepada seluruh masyarakat dan pemuda/pemudi desa Sialang Pasung. Diadakan pada setiap setelah selesai shalat Maghrib hingga shalat Isya, Di Mesjid Sialang Pasung dan Posko KKN.

Kegiatan Shalat dan Mengaji bersama.
Penyerahan kenang-kenangan kepada Mesjid desa Sialang Pasung

Laporan : Kunjungan Mahasiwa KKN Tematik UNRI desa Sialang Pasung ke GEMA

4 Juli 2019

Meskipun tidak semua masyarakat Sialang Pasung berprofesi sebagai Nelayan, namun sebagian besar penyuplai hasil perikanan baik berupa ikan yang masih segar ataupun yang telah diolah berasal dari daerah ini. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai GEMA, sebuah tempat yang menyerupai Buminya para nelayan, terdiri dari pondokan kayu yang berdiri di bibir laut. Tempat para nelayan melabuhkan hasil tangkapannya sebelum dikirim ke Selat Panjang. Hasil tangkapan berupa ikan dan udang yang beragam nantinya akan disortir dan sebagian masyarakat yang ingin membeli ikan langsung datang ke GEMA ini.

Berikut adalah dokumentasi Mahasiswa KKN Tematik UNRI ketika berkunjung ke GEMA.

Penyortiran Ikan dan Udang di GEMA
Nelayan tiba di GEMA
Penyortiran ikan lomek, udang merah, udang berduri, ikan langgai, tenggiri dan sotong.
Pemandangan Pondok GEMA
Berfoto dengan hasil Tangkapan Nelayan bersama Kepala Desa

CREW SIALANG PASUNG

Tidak Ketika Hujan

Ada 17 goals yang tertera dalam blue print SDGs (Sustainable Development Goals) yang di keluarkan oleh PBB, sebagai sebuah usaha untuk membangun dunia secara menyeluruh dan berkesinambungan, sehingga tercipta sebuah tempat yang aman dan meningkatnya taraf hidup yang merata di seluruh dunia.

Tujuan nomor 6, Clear water and Sanitation,memastikan ketersediaan air bersih bagi seluruh manusia. Akses air yang mudah dan terjamin, menjadi satu visi yang besar bagi kelangsungan hidup mahluk bumi.

Bumi yang terdiri dari 2/3 lautan mungkin membuat sebagian orang berfikir bahwa air tidak akan pernah habis. Belum lagi dengan fenomena global warming yang menambah volume air bumi membuat statement “Earth soon will dry out.” menjadi semakin terdengar sebagai suatu hal yang ‘gila’ bagi beberapa orang.

Let me enlightens some of you who have the kind of thoughts. Sit tight, put your seatbelt on.

KKN itu sulit.

Akses jalan yang susah, sinyal 4G yang hanya ada di beberapa sudut tertentu, listrik yang belum 24 jam dan juga akses air bersih.

Desa Sialang Pasung merupakan desa pertama yang akan kau temui setelah mendarat di pelabuhan Kempang Kepulauan Meranti. Ketika air laut pasang di bulan 12, Desa ini berubah menjadi negeri terapung karena luapan air laut yang cukup generous

Ini dan beberapa hal lainnya membuat akses terhadap air bersih semakin sulit untuk didapatkan.

Dua minggu pertama aku dan Crew Sialang Pasung menetap di rumah bapak Kepala Desa, di dusun satu, daerah laut. Seminggu sebelum kedatangan kami desa di guyur hujan lebat, sehingga tank-tank penguin orens raksasa terisi air hujan bersih yang bisa kami gunakan di hari pertama. Ketika itu, sulitnya mendapatkan air bersih belum kami rasakan secara nyata.

Namun, ketika hari berganti dan hujan tak juga turun, sumur mulai mengering, tank-tank orens pun terkuras habis, aku dan teman-teman mulai panik. Ah, ini dia. Ini dia.

Rumah bapak kepala desa yang ketika itu kami tempati memang memiliki sumur bor, namun air yang di tarik si mesin merupakan air payau, bewarna, dan lengket ketika di gunakan untuk mandi. Pilihan untuk membeli air pun muncul ke permukaan. 10 galon air dihargai 5000 rupiah, 10.000 jika menggunakan jasa antar jemput. Pikiran menghemat uang pun membuat kami memilih untuk menggunakan jasa pengangkutan sendiri, para Crew laki-laki pun mengangkat galon demi galon air di bawah terik matahari yang menyengat. Keringat mereka yang jatuh hari itu, menjadi awal cerita kami dan langkanya sumber air bersih di Desa Sialang Pasung.

Ketika pindah ke posko yang telah ditentukan, gedung BUMDES di dusun 5, kami dihadapkan dengan masalah lain. Hujan yang tidak juga turun hingga minggu ke-4, membuat rindu kepada keran satu tap semakin terasa. BUMDES yang sepertinya sudah lama tidak dioperasikan tidak memiliki sumber air bersih yang terjaga. Satu-satunya sumur di belakang gedung sudah dipenuhi oleh sampah plastik dan mengandung air merah yang mengingatkanku dengan sebuah minuman bersoda Caco-calo.

Sekiranya tubuhku menjerit melihat keadaan itu, tidak terbayang menyiramkannya ke kulit. Ah, tipikal anak kota, bisik hati kecil. Namun, tak kupungkiri, sangat enggan rasanya ketika itu menyentuh permukaan air gelap itu.

Air merah itu, kawan, merupakan salah satu air terbersih di Desa Sialang Pasung, tidak berasa, tidak berbau, hanya berwarna.

Hanya berwarna. Digunakan untuk mandi. Hanya berwarna. Digunakan untuk mencuci. Hanya berwarna. Bahkan digunakan untuk konsumsi. Hanya berwarna.

Hanya bewarna.

“Disini kami selalu beli air kak, air payau, lengket di badan. Syukur mike-kamu dalam bahasa daerah-di dusun 5 dapat air bersih, senang, tak payah.”

Aku terheran, karena beraktivitas dengan air merah tidak termasuk ke dalam hal yang aku antisipasi. Akses air bersih yang sangat mudah di Pekanbaru membuatku semakin tersadar bahwa banyak daerah, tempat diluar sana yang kesulitan dalam mendapat air bersih.

Things like these matters. Bukan dengan membiasakan diri karena tidak akan adanya perubahan, namun lebih kepada usaha untuk membenahi. Aku yakin, warga desa Sialang Pasung pun desperate untuk mendapatkan akses air bersih yang mudah, bukan hanya tampungan air hujan yang hanya bertahan dua hingga tiga hari.

Oleh : Nabila Hanum

Something Precious yet Priceless

There’re things that you can’t explain with words, but when you see it, it makes you stood still wordless.. because it’s beautiful.

Kuliah Kerja Nyata adalah salah satu kegiatan wajib dari Universitas untuk memenuhi persyaratan kelulusan. Dengan kata lain, kalo mau lulus ya harus ikut KKN. Awalnya, tinggal selama kurang lebih 50 hari di desa—dan ngerjain banyak proker tuh kayaknya malesin banget. Terbiasa dengan mobilitas perkotaan yang cepat, akses yang mudah, dan segala sesuatu lainnya yang instant bikin gambaran kalau hidup di desa dengan segala kesederhanaannya bakalan ribet.

Sialang Pasung.. dari 10 orang anggota kelompok KKN, ngga ada yang tau gimana bentuk desa ini. Survey lokasi seharian penuh ngelilingin desa pun tetap ngga ngasih gambaran lengkap tentang desa. KKN makes you expect something unexpected.

Tinggal di Gedung Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang udah ngga digunain selama setahun dan kotor banget, air sumur yang warnanya merah, sekitar posko banyak monyet berkeliaran, posko yang jauh dari rumah warga, posko yang katanya berhantu, dan masih banyak unexpected things lainnya yang ada disini. Hari-hari KKN yang diisi dengan ngerjain proker yang udah dirancang sebelumnya, ditambah lagi banyak tambahan kegiatan permintaan dari perangkat desa setempat bikin capek lahir dan batin.

Setelah berjilid-jilid hal yang melelahkan dijalani tiap hari, ada satu hal yang bikin tinggal disini tuh tetap harus disyukuri. Seharian ngerjain proker atau ikut kegiatan rutin desa yang bikin lelah bisa dihibur dengan ngeliatin bintang di langit pas malam hari. Kalau di Pekanbaru, malam hari nya bakalan disuguhi pemandangan lampu-lampu dari gedung di sepanjang jalan. Indah, tapi buatan. Nah, di Sialang Pasung ini kalau malam kita bisa liat banyak bintang di langit dengan jelas tanpa halangan polusi ataupun cahaya gedung tinggi.

50 hari tinggal disini tuh bikin aku sadar kalau sebenarnya banyak hal precious yet priceless yang bisa ditemui di manapun.

Oleh : Mutia Hairani