Laporan : Kunjungan Mahasiwa KKN Tematik UNRI desa Sialang Pasung ke GEMA

4 Juli 2019

Meskipun tidak semua masyarakat Sialang Pasung berprofesi sebagai Nelayan, namun sebagian besar penyuplai hasil perikanan baik berupa ikan yang masih segar ataupun yang telah diolah berasal dari daerah ini. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai GEMA, sebuah tempat yang menyerupai Buminya para nelayan, terdiri dari pondokan kayu yang berdiri di bibir laut. Tempat para nelayan melabuhkan hasil tangkapannya sebelum dikirim ke Selat Panjang. Hasil tangkapan berupa ikan dan udang yang beragam nantinya akan disortir dan sebagian masyarakat yang ingin membeli ikan langsung datang ke GEMA ini.

Berikut adalah dokumentasi Mahasiswa KKN Tematik UNRI ketika berkunjung ke GEMA.

Penyortiran Ikan dan Udang di GEMA
Nelayan tiba di GEMA
Penyortiran ikan lomek, udang merah, udang berduri, ikan langgai, tenggiri dan sotong.
Pemandangan Pondok GEMA
Berfoto dengan hasil Tangkapan Nelayan bersama Kepala Desa

CREW SIALANG PASUNG

Tidak Ketika Hujan

Ada 17 goals yang tertera dalam blue print SDGs (Sustainable Development Goals) yang di keluarkan oleh PBB, sebagai sebuah usaha untuk membangun dunia secara menyeluruh dan berkesinambungan, sehingga tercipta sebuah tempat yang aman dan meningkatnya taraf hidup yang merata di seluruh dunia.

Tujuan nomor 6, Clear water and Sanitation,memastikan ketersediaan air bersih bagi seluruh manusia. Akses air yang mudah dan terjamin, menjadi satu visi yang besar bagi kelangsungan hidup mahluk bumi.

Bumi yang terdiri dari 2/3 lautan mungkin membuat sebagian orang berfikir bahwa air tidak akan pernah habis. Belum lagi dengan fenomena global warming yang menambah volume air bumi membuat statement “Earth soon will dry out.” menjadi semakin terdengar sebagai suatu hal yang ‘gila’ bagi beberapa orang.

Let me enlightens some of you who have the kind of thoughts. Sit tight, put your seatbelt on.

KKN itu sulit.

Akses jalan yang susah, sinyal 4G yang hanya ada di beberapa sudut tertentu, listrik yang belum 24 jam dan juga akses air bersih.

Desa Sialang Pasung merupakan desa pertama yang akan kau temui setelah mendarat di pelabuhan Kempang Kepulauan Meranti. Ketika air laut pasang di bulan 12, Desa ini berubah menjadi negeri terapung karena luapan air laut yang cukup generous

Ini dan beberapa hal lainnya membuat akses terhadap air bersih semakin sulit untuk didapatkan.

Dua minggu pertama aku dan Crew Sialang Pasung menetap di rumah bapak Kepala Desa, di dusun satu, daerah laut. Seminggu sebelum kedatangan kami desa di guyur hujan lebat, sehingga tank-tank penguin orens raksasa terisi air hujan bersih yang bisa kami gunakan di hari pertama. Ketika itu, sulitnya mendapatkan air bersih belum kami rasakan secara nyata.

Namun, ketika hari berganti dan hujan tak juga turun, sumur mulai mengering, tank-tank orens pun terkuras habis, aku dan teman-teman mulai panik. Ah, ini dia. Ini dia.

Rumah bapak kepala desa yang ketika itu kami tempati memang memiliki sumur bor, namun air yang di tarik si mesin merupakan air payau, bewarna, dan lengket ketika di gunakan untuk mandi. Pilihan untuk membeli air pun muncul ke permukaan. 10 galon air dihargai 5000 rupiah, 10.000 jika menggunakan jasa antar jemput. Pikiran menghemat uang pun membuat kami memilih untuk menggunakan jasa pengangkutan sendiri, para Crew laki-laki pun mengangkat galon demi galon air di bawah terik matahari yang menyengat. Keringat mereka yang jatuh hari itu, menjadi awal cerita kami dan langkanya sumber air bersih di Desa Sialang Pasung.

Ketika pindah ke posko yang telah ditentukan, gedung BUMDES di dusun 5, kami dihadapkan dengan masalah lain. Hujan yang tidak juga turun hingga minggu ke-4, membuat rindu kepada keran satu tap semakin terasa. BUMDES yang sepertinya sudah lama tidak dioperasikan tidak memiliki sumber air bersih yang terjaga. Satu-satunya sumur di belakang gedung sudah dipenuhi oleh sampah plastik dan mengandung air merah yang mengingatkanku dengan sebuah minuman bersoda Caco-calo.

Sekiranya tubuhku menjerit melihat keadaan itu, tidak terbayang menyiramkannya ke kulit. Ah, tipikal anak kota, bisik hati kecil. Namun, tak kupungkiri, sangat enggan rasanya ketika itu menyentuh permukaan air gelap itu.

Air merah itu, kawan, merupakan salah satu air terbersih di Desa Sialang Pasung, tidak berasa, tidak berbau, hanya berwarna.

Hanya berwarna. Digunakan untuk mandi. Hanya berwarna. Digunakan untuk mencuci. Hanya berwarna. Bahkan digunakan untuk konsumsi. Hanya berwarna.

Hanya bewarna.

“Disini kami selalu beli air kak, air payau, lengket di badan. Syukur mike-kamu dalam bahasa daerah-di dusun 5 dapat air bersih, senang, tak payah.”

Aku terheran, karena beraktivitas dengan air merah tidak termasuk ke dalam hal yang aku antisipasi. Akses air bersih yang sangat mudah di Pekanbaru membuatku semakin tersadar bahwa banyak daerah, tempat diluar sana yang kesulitan dalam mendapat air bersih.

Things like these matters. Bukan dengan membiasakan diri karena tidak akan adanya perubahan, namun lebih kepada usaha untuk membenahi. Aku yakin, warga desa Sialang Pasung pun desperate untuk mendapatkan akses air bersih yang mudah, bukan hanya tampungan air hujan yang hanya bertahan dua hingga tiga hari.

Oleh : Nabila Hanum

Something Precious yet Priceless

There’re things that you can’t explain with words, but when you see it, it makes you stood still wordless.. because it’s beautiful.

Kuliah Kerja Nyata adalah salah satu kegiatan wajib dari Universitas untuk memenuhi persyaratan kelulusan. Dengan kata lain, kalo mau lulus ya harus ikut KKN. Awalnya, tinggal selama kurang lebih 50 hari di desa—dan ngerjain banyak proker tuh kayaknya malesin banget. Terbiasa dengan mobilitas perkotaan yang cepat, akses yang mudah, dan segala sesuatu lainnya yang instant bikin gambaran kalau hidup di desa dengan segala kesederhanaannya bakalan ribet.

Sialang Pasung.. dari 10 orang anggota kelompok KKN, ngga ada yang tau gimana bentuk desa ini. Survey lokasi seharian penuh ngelilingin desa pun tetap ngga ngasih gambaran lengkap tentang desa. KKN makes you expect something unexpected.

Tinggal di Gedung Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang udah ngga digunain selama setahun dan kotor banget, air sumur yang warnanya merah, sekitar posko banyak monyet berkeliaran, posko yang jauh dari rumah warga, posko yang katanya berhantu, dan masih banyak unexpected things lainnya yang ada disini. Hari-hari KKN yang diisi dengan ngerjain proker yang udah dirancang sebelumnya, ditambah lagi banyak tambahan kegiatan permintaan dari perangkat desa setempat bikin capek lahir dan batin.

Setelah berjilid-jilid hal yang melelahkan dijalani tiap hari, ada satu hal yang bikin tinggal disini tuh tetap harus disyukuri. Seharian ngerjain proker atau ikut kegiatan rutin desa yang bikin lelah bisa dihibur dengan ngeliatin bintang di langit pas malam hari. Kalau di Pekanbaru, malam hari nya bakalan disuguhi pemandangan lampu-lampu dari gedung di sepanjang jalan. Indah, tapi buatan. Nah, di Sialang Pasung ini kalau malam kita bisa liat banyak bintang di langit dengan jelas tanpa halangan polusi ataupun cahaya gedung tinggi.

50 hari tinggal disini tuh bikin aku sadar kalau sebenarnya banyak hal precious yet priceless yang bisa ditemui di manapun.

Oleh : Mutia Hairani

Hidup di Sialang Pasung

Alhamdulillah tahun ini diberi kesempatan untuk mengikuti KUKERTA UNRI . sebelumnya perkenalkan nama ku Anggraini, biasa dipanggil Rani a.k.a Lucinta Luna. Aku kuliah di UNRI jurusan Pendidikan Biologi angkatan 2016. Pada kesempatan kali ini aku ingin menulis pengalaman ku hidup bersama teman-teman yang terbentuk melalui Nia dan Regina kawan satu jurusan ku di kampus.
Sebelum masuk ke cerita, aku ingin mengenalkan teman-teman satu tim ku terlebih dahulu. Kami terdiri dari 10 orang, 6 orang perempuan dan 4 orang laki-laki. Kami memiliki sifat yang berbeda-beda, ada om Fauzi, Uda Kiki, Bapak Adit, Asep, Mutia, Regina, Hanum, Nia, Mak Novi, dan aku. Pengenalan sifat dari masing-masing diri kami dapat di baca di tulisan lain di blog ini ya guys.
Awal mulanya aku tidak pernah berpikir akan masuk ke kelompok KUKERTA bersama teman-teman ku yang sudah manjalani hidup bersama ku selama 43 hari ini. Suka duka hidup bersama teman-teman yang berbeda jurusan dan berbeda karakter memang sangat terasa selama di KUKERTA ini. Tapi dari sinilah aku dapat belajar bahwa setiap orang memiliki sifat bawaan yang berbeda-beda dan kita harus bisa saling mengerti dan bersatu dalam menjalani hari-hari tanpa harus mengeluarkan ego dari masing-masing diri. Berbagai drama kehidupan telah ku lalui selama menjalani hidup bersama teman-teman ku. Namun aku senang karena mereka telah masuk ke dalam hidup ku dan memberi warna baru.
Kami memilih desa Sialang Pasung sebagai tempat KUKERTA kami karena tempat ini dirasa cocok dengan proker yang telah terpampang di proposal kami. Desa Sialang Pasung berada di Kabupaten Kepulauan Meranti kecamatan Rangsang Barat ini cukup jauh untuk ditempuh dari tempat kami di Pekanbaru. Kami harus menaiki kapal jelatik yang terbuat dari kayu nan kokoh dan mempunyai desaign berbeda dari kapal-kapal lainnya sehingga cukup asik jika dinaiki bersama teman-teman sambil bermain kartu UNO dan Warewolf (WW). Tidak hanya sampai disitu, untuk mencapai Sialang Pasung setelah naik Jelatik kami harus menaiki Kempang. Kempang, yang disebut om Fauzi merupakan bahasa Thailand dari sampan ini merupakan transportasi umum yang biasa digunakan jika ingin menyebrang dari Selat Panjang ke Sialang Pasung dan desa-desa lain yang ada di Kecamatan Rangsang Barat. Setelah menaiki kempang sampai lah di tujuan kami yaitu Desa Sialang Pasung, desa pertama yang terdapat di Kecamatan Rangsang Barat. Kami bersyukur karena kami tidak salah memilih lokasi KUKERTA dari segi transportasi yang cukup dekat dengan pusat Kabupaten Kepulauan Meranti yaitu Kota Selat Panjang. Untuk menyebrang dari desa Sialang Pasung ke Selat Panjang kira-kira hanya membutuhkan waktu 15-20 menit, dari dermaga ke posko kami pun cukup dekat dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki.
Selama KUKERTA ini kami tinggal secara nomaden, awalnya kami tinggal di rumah pak kades dan beberapa hari terakhir kami tinggal di BUMDES Sialang Pasung. Perubahan Air yang berbeda dari rumah Pak Kades yang berair payau rada asin dan berwarna teh susu menjadi air BUMDES yang berwarna teh membuat kami berusaha untuk beradaptasi, mulai dari pengadaptasian cara mandi, cara mencuci, cara masak dan lain-lainnya. Memang di awal terasa berat dan menimbulkan pro-kontra antar kelompok namun seiring berjalannya waktu kami dapat beradaptasi dengan baik menggunakan air yang ada di desa ini. Dari segi pengalaman ku menggunakan air yang ada di Sialang Pasung, kedua jenis air yang ada memiliki sisi positif dan negatif tersendiri. Air payau yang biasa digunakan warga Dusun 1 dan 2 merupakan air yang berwarna seperti teh susu, sedikit berasa asin namun cukup baik digunakan untuk mencuci baju karena tidak menimbulkan warna balak di baju yang kita cuci. Namun kekurangan air ini yaitu rasanya yang sedikit asin dan sedikit kurang enak untuk dipakai mandi karena rasanya seperti mandi dengan air laut. Sementara air sumur BUMDES yang berwarna teh cukup segar digunakan saat mandi karena terasa dingin dan enak di kulit, namun hanya warnanya yang membuat beberapa diantara kami sedkit takut untuk mencoba menggunakan air ini. Sisi negatif dari air ini yaitu ketika digunakan untuk mencuci pakaian apalagi yang berwarna terang seperti abu-abu, putih, kuning, dsbg akan menimbulkan bercak seperti garis berwarna kecokelatan di baju yang telah kita cuci.
Selain air, listrik merupakan kebutuhan yang cukup urgent sehari-harinya. Untuk masalah listrik, awalnya di siang hari pukul 11.00 s/d 17.00 WIB listrik pada satu desa sehingga terasa seperti mati lampu dalam waktu yang cukup lama. Dan kami pun terasa seperti tidak beraktivitas karena cuaca yang sangat ekstrem panasnya dan listrik padam yang membuat kami tidak bisa berkipas-kipas dengan kipas angin. Namun beberapa hari terakhir ini listrik di desa sudah mulai hidup selama 24 jam dengan syarat padam di malam hari setiap 5 hari sekali. Ketika listrik padam di malam hari langit di desa Sialang Pasung terlihat sangat indah dengan bulan purnama yang sangat terang dan taburan bintang berkelap-kelip di langit yang luas membuat hati adem ketika berjalan di bawahnya.
Warga desa Sialang Pasung cukup ramah dan membuat kami aman selama hidup di desa ini. Anak-anak desa sangat ramai bermain di posko kami setiap harinya. Mungkin beberapa bualan mereka ada yang membuat kami tersinggung, Kalau kata om Fauzi mereka bagaikan pecahan-pecahan botol karena keributan mereka. Namun meskipun seperti pecahan botol, tingkah lucu mereka yang sedikit nyebelin cukup memberi kesan pada ku selama hidup di desa ini. Anak-anak di desa Sialang Pasung ini memiliki sifat yang berbeda-beda layaknya teman-teman sekelompok ku, membuat aku belajar lagi caranya mengerti sifat-sifat orang tetapi melalui anak-anak yang ada di desa ini.
Terimakasih sudah membaca cerita random ku selama berada di Desa Sialang Pasung ini, sebenarnya bukan cerita sih. Lebih ke pengalaman dan perasaan aku selama berada di desa ini. Mungkin tulisan ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa yang ingin memilih desa Sialang Pasung sebagai tempat KUKERTA nya kelak. Selain itu aku juga mau mengucapkan terimakasih kepada kepala desa, perangkat-perangkat desa, dan warga desa Sialang Pasung yang telah membantu kami selama hidup di desa ini. Kenangan-kenangan selama di desa ini tidak akan aku lupakan begitu saja. Terimakasih banyak. Kami juga ingin meminta maaf jika selama tinggak di desa ini, banyak sikap kami yang tidak mengenakkan bagi warga desa ini. Mohon maafkan kami.
Untuk teman-teman satu tim ku, terimakasih telah memberi cerita yang cukup berwarna selama hidup bersama. Maafkan aku jika selama hidup bersama ini banyak kata-kata atau sifat aku yang mengganggu kalian, karena apapun yang terjadi kita telah di takdirkan untuk bertemu melalui kegiatan ini. Aku sayang kalian yang berbeda-beda dan sulit di mengerti namun cukup memberi arti. Wkwkwk apasih? Dahlah intinya tulisan ini random. Makasih yang sudah membaca sampai disini dan telah menghabiskan waktu sepersekian menit untuk membaca tulisan ini. Byee.

Oleh : Anggraini

Nine Aliens

Nine Aliens

Halo semuanya. Perkenalkan nama saya Yohanes Nathaniel biasa dipanggil Asep. Mahasiswa Kukerta tematik Universitas Riau di desa Sialang Pasung. Ini kisahku dalam mengarungi dunia aneh dan ajaib selama kurang lebih 2 bulan ini.
Kisahku bermula ketika mulai mengenal 9 sosok Alien dari berbagai fakultas yang ada di Universitas Riau. Tepatnya 3 alien jantan dan 6 alien betina. Perlu teman-teman ketahui Asep yang kyeopta ini suka mengamati individu yang ada dalam diam.
Izinkan Asep menyampaikan pandangan Asep terhadap Alien-alien ini.

Pertama mungkin kita awali dari yang paling random. Muhammad Fauzi Lubis, peminum limbah ini super lucu dan random. Mungkin teman paling lucu yang pernah aku miliki sampai saat ini. Omnivora ini juga tidak ada bosannya dengan mie sagu khas kepulauan Meranti. Dia juga lah yang membuat tujuan hidupku berubah dari awalnya menjadi dokter akhirnya menjadi hafal lagu wik-wik. Hehe. Anak jurusan hukum yang sepertinya salah jurusan ini mungkin definisi tepat untuk less talk, more action. Bad moodnya kurangin ya, kami sayang Ojik.

Selanjutnya ada Kordes baru kami pengganti Fauzi. Akbar Dwi Rizki. Dipanggil Kiki. Manusia paling galau selama kukerta ini karena jadi objek taksiran berbagai lawan jenis yang unyu. Wibu parah yang doyan music rock ini sepertinya sangat liberal dalam melihat berbagai masalah sehingga cukup seru berbagi pengalaman atau mendengar pengalamannya. Calon diplomat yang Desember nanti akan magang di Thailand ini mudah kesurupan di tempat karaoke. Suatu hari di karaoke Selat Panjang dia mengeluarkan suara seakan sudah batuk kronis et causa makan micin berkepanjangan.

Alien jantan terakhir ada Aditya Rachman Aliunputra. Wakil Kordes. The big boy in our squad. Anak FPK yang paling supel di kelompok kami. Bisa buat suasana jadi heboh apalagi jika bertemu partner sehatinya yakni Regina. Cowok yang doyan makan ini punya kisah yang selamanya akan terpatri diingatanku. “Kemisoan”. Untuk kisah lengkapnya tunggu kisah lengkapnya di buku aku yang akan terbit segera. Bercanda. Jadi malam itu malam Jum’at, kami sedang makan di tempat nongkrong kami di cafe pak Jam’s. Semua berjalan dengan lancar, sampai seekor hanuman berdarah. FYI, Alien bernama Adit ini punya ketakutan tersendiri sama darah. Jikalau boggart ada, mungkin boggart-nya Adit adalah sekumpulan darah berbentuk darah. Back to the topic, Hanum berdarah, Adit melihat dan kemisoan muncul. Wkwk

Untuk wanita pertama ada Hanum Nabila. Manusia multitalenan (karena pandai masak) dan multigottalent. Cewek minang yang sepertinya admin instragram @lawanpatriarki ini punya kulit yang transparan sampai usus 12 jarinya kelihatan. Dirinya sempat membuatku heran karena penyakit maag-nya tidak bisa ditanggulangi oleh antasida. Pandangannya yang tidak biasa mengenai pria membuatku kadang tertohok dan membuatku merenung betapa pluralnya kami. Namun dari sekian banyak kawan kami di KKN mungkin dia salah satu yang menurutku memilih jurusan yang tepat. Bahasa Inggrisnya yang ber-aksen Detroit dan IPK-nya yang katanya 3,8 ini menjadi buktinya.

Risnia Erma Yuliana. Calon Protokol di acara debat presiden 2034 dimana Asep yang jadi calonnya. *Hiyahiyahiya. Suaranya menggelegar dan bisa tiba-tiba berubah dalam sekejap karena aslinya lumayan cempreng. Bukan anak acara di kukerta kami tapi seakan dialah yang mengatur seluruh acara and if you read this I wanna say thanks for all your hard work and I personally proud of u. Semoga bisa meraih gelar sarjana strata satu dalam waktu dekat ya. Undang kami karena jikalau ada kesempatan Asep akan datang. Tahan ya rindunya sama Rio. LDR itu baik. Hanya bisa zinah online. :V

Selanjutnya ada kepala chef kukerta kami. Novi Astria yang merupakan kekasih dari Adit. Hampir semua makanan yang pernah masuk dalam perut kami merupakan resep dari kitab sansekerta ala Novi. Salah satu wanita paling dewasa yang pernah aku temui. Pandangan sinus, eh sinis, sorry typo, terkadang dilemparkan untuk melakukan screening kepribadian pada setiap orang yang ditemuinya. Kisah cinta dirinya bersama Adit diatas motor menjadi kisah cinta absurd yang kalau dijadikan judul FTV mungkin jadinya “Aku ditembak abang-abang Uber di motor Gojek temanku”.

Regina Silfia. Manusia paling heboh kalau kami sudah berkumpul. Keramahannya ketika menyapa warga desa ketika berjalan membuat salah satu pria desa kepincut. Tidak terbayang di imajinasiku yang sebenarnya sudah luas, bagaimana jika dia nanti menjadi guru, pasti akan kocak. Bundahara kami selama kukerta ini punya segudang kisah yang puanjang sekali kalau diceritain, untuk lebih jelasnya aku sertakan kontak Whatsapp-nya ya 021-791-876-86. Jangan lupa Passwordnya Kopigayo.

Anggraini. The most legowo person I’ve ever met. Kadang kesal sendiri jika melihat ada orang tertindas tetapi hanya diam dalam diam. Calon guru yang pasti akan dicintai oleh murid-muridnya ini penuh dilema yang terkadang tidak perlu didilemakan. Kukerta menjadi jalan baginya untuk mengenal kehidupan asmara yang sesungguhnya. Bangun paling pagi, tidur paling lama. Aku curiga dia merupakan reinkarnasi dari orang Jepang karena etos kerjanya yang luar biasa keren. Respect sama wanita asal Batam ini

Mutia Hairani. Wanita yang mungkin mengalami krisis identitas karena kekurangan 2 huruf dari namanya. Harusnya mutiaRA Hairani. *Mutia masuk* “Akikahan aku ya.” Maaf, dia memang suka mengigau. Kita mulai dari kata Manis. Cewek berdagu belah ini punya ketawa yang susah untuk ditiru. Seorang Asep yang punya sertifikat ventriloquist dari pertamina saja tidak bisa menirunya. Nenek buyut dari si Mutia ini juga aku duga adalah Swiper-nya Dora karena dia mencuri hatiku. Wonoto asal Jambi ini absurd nian, yah walau tidak lebih absurd dari Fauzi sih. Kesinisannya dalam melihat setiap permasalahan sejalan dengan pemikiranku. Itu kenapa kami sering bercengkrama di bawah sinaran lampu teplok untuk membahas hal-hal random nan menggelitik. Semoga rencana magang di Trans TV nya lancer anak bandel. Kalau jadi magang disananya, tolong fotokan siapa yang menyuarakan voice over “Bioskop Trans TV segera dimulai”.


9 Alien + 1 Manusia imut = Kami

Oleh : Yohannes Nathaniel

Cuma Mengkritik Aja, Gak Ada Curhatannya Kok..

Did somebody know about tranquillity of tropical island just like common Hawaiian stereotypes? Ya! Bagi warga dataran tinggi sepertiku dan tidak pernah ke pesisir yang tergolong remoted area yang juga tidak mempunyai akses darat, aku sempat membayangkan alam pantai yang belum tersentuh teknologi.
Kepulauan Meranti, sebuah kabupaten berbentuk archipelago dan merupakan akronim dari nama-nama pulau yang ada, yaitu Merbau, Rangsang, dan Tebingtinggi, yang secara geografis sendiri, menurutku seharusnya masih merupakan pulau Sumatera, karena masih merupakan hasil sedimentasi sungai Siak yang membentuk estuary di muaranya. Well, bagi penganut paham Shakespeare, yang mengatakan “apalah arti sebuah nama” sepertiku ya fine-fine aja lah.
Kembali ke stereotip Hawaii itu lagi, ternyata ekspektasiku sangat jauh berbeda dari realita. kota Selatpanjang sendiri bisa dibilang cukup developed untuk ukuran sebuah ibukota kabupaten. First impression-ku pada kota ini yang pertama terucap pada kalimat ”njirrr, ni masih di Indonesia aku kan?”. Berbagai arsitektur Tionghoa yang unik menghiasi kota baik berupa vihara-vihara, gapura, maupun aksara-aksara pada pertokoan, bahkan masih jauh lebih menarik daripada kawasan Chinatown di Medan. “serasa di Guangdong aku bah!” batinku saat itu. Tetapi tidak melupakan estetika dari arsitektur khas Melayu yang berupa selembayung itu sehingga aku masih bisa notice kalau ini masih di Riau dan pastinya menambah keunikan kota ini. Ya, menurutku, secara demografis sendiri, perbandingan ras Melayu (baik itu suku Melayu maupun para perantau dari luar daerah) dan peranakan Tionghoa disini cukup equal walaupun secara pribadi aku belum ngecek langsung ke biro sensus kotanya, hehe. Walaupun tidak ada mall maupun department store. Masih cukup banyak swalayan modern yang menghiasi jalanan kota. Salah satunya adalah Walmart yang akhirnya menjadi tempat langganan kita nongkrong satu kelompok.
Lokasi desa kami sendiri, yaitu Sialang Pasung, berada di pulau Rangsang yang beruntungnya terletak cukup dekat dari kota Selatpanjang. Karena masih minimnya infrastruktur disini, maka tidak heran jika kepemilikan mobil disini tidak ada. Sudah terbiasa dengan budaya siapa loe kau siapa gue awak Medan, bukan Jaksel. First impression-ku lagi pada desa ini adalah budaya tutur sapa dan ramah tamah masih umum dipakai bahkan kepada orang yang tidak dikenal sekalipun.
Oh ya, belum kenalan udah sok akrab pulak awak yakan, wkwkwkwk! namaku Muhammad. Aku sendiri asalnya dari Medan. Ga di Medan-nya sih, tapi masi dekat lah sekitar 15 menit dari gapura kota dah nyampek. Soalnya kalok kubilang pun nama daerahku gak bakal tau kelen yang bukan orang sini yakaaaan. Binjai nama kotanya. Ibarat Tangerang-nya Jakarta gitu. haaaa gak asing nya kelen sama nama Binjai tu kaan? Iyaaa nama jenis RAMBUTAN itu! Iyanya awak kesal tu orang tau Binjai tu cumak nama rambutan doang, padahal nama kota nya itu. Rambutannya aslinya dari sini makanya namanya Binjai. Kek awak taunya Garut itu nama jenis dodol kaan, bukan nama kotanya. Kan ada paok-paoknya orang tu kurasa muak pulak awak kadang yakaaaan!!!!
Kalau dari pandanganku pada desa ini atau bahkan jika perspektifku pada keseluruhan pulau Rangsang, sebenarnya potensi dan opportunity desa ini dalam segi ekowisata bisa kukatakan sangat signifikan. Pertama, menurut sumber yang kubaca, Kepulauan Meranti bersama kabupaten Siak dan Bengkalis termasuk pada segitiga emas Malaysia-Singapura-Indonesia sehingga jika bukan disebabkan infrastruktur yang memadai, desa ini harusnya tidak terkesan remoted. Seperti yang kutulis sebelumnya bahwa kendaraan roda 4 di pulau ini sangat langka. Oke, andai kausalnya adalah pengurangan emisi atau apalah itu. Tapi alasan sebenarnya adalah kurang memadainya sarana transportasi di sini. Disekitar Sialang Pasung ini cukup banyak kawasan Mangrove yang dapat kukatakan cukup indah dan andai dikelola dengan baik, bisa jadi income desa ini akan meningkat tajam seperti desa Ponggok di Jawa Tengah yang memanfaatkan kelebihan airnya. Maupun membangun konsep waterfront park yang berkonsep eco-friendly beserta seaside foodcorner yang dapat dikelola oleh warga lokal. Secara kulihat bahwa lokasi desa ini sangat strategis karena dekat dengan pusat komersial kabupaten dan memiliki pelabuhan sendiri.
Ketinggian ngayal kau wakkk! Iyalah paok ko kira tuh butuh modal berapa? Emang ada investornya? Lah kau tengok lah banyak sampah gitu dibawah pelabuhan, yg mau mungut siapa? Jembatan aja gak ada. Jalan rada-rada pecah! Yodahlah komen teros sampek Lucinta Luna pigi solat jum’at !
Well, Singapura pun dulunya masih berupa pulau berawa yang kumuh dan extremely undeveloped sampai Lee Kwan Yeu turun tangan dan who knows kini menjadi sebuah negara dengan 5 besar income percapita tertinggi dan salah satu kota dengan land value termahal di dunia. Berkat pengelolaan SDM yang baik. Ya! Negara yang bahkan tidak lebih luas dari pulau Rangsang itu hanya mengandalkan kualitas SDM dan lokasinya yang strategis. Mereka TIDAK punya sumber alam apapun bahkan untuk mengeruknya! Totally they didn’t! Disitulah fungsi kita turun temurun melaksanakan KKN ini, yaitu mengembangkan desa ini terutama dari potensi alam dan manusianya.
Aku percaya bahwa suatu saat desa ini pasti akan mencapai puncak utopia-nya. Yap, ditambah keramahtamahan penduduknya yang sangat luarbiasa terutama ibu depan rumah Pak kades yang sangat murah hati ntah 30 tahun lagi aku membuka smartphone-ku mencari kolom rekomendasi pada destinasi wisata, disana tertulis pulau Rangsang atau bahkan Sialang Pasung. Semoga saja…

Oleh : Muhammad Fauzie Lubis

Berbagi Ilmu itu Indah

Semua berawal dari rencana pemilihan kkn tematik yang mengharuskan kami untuk merencanakan semua dimulai dari anggota, tempat, maupun program kerja yang akan kami ajukan. Dari semua program kerja yang diajukan, kami dari program studi Pendidikan Biologi mengajukan salah satu proker yang menurut kami bisa membantu menggali potensi desa yang akan kami pilih nanti. Dari semua proker kami, kali ini penulis ingin membahas tentang teknik pembuatan pupuk kompos. Diketahui Desa sialang pasung memiliki 5 dusun yang dominan dengan profesi nelayan dan petani, tetapi profesi petani kebanyakan di tekuni oleh dusun 3 dan 4. “ Disini kebanyakan nelayan dek, soalnya tanah nya kurang cocok untuk bertani dikarenakan dominan dengan tanah gambut yang kurang cocok untuk bercocok tanam”, ucap pak Rudianto selaku penghulu saat penulis dan dua teman nya melakukan survey desa yang akan kami tuju.
Sebelum mempersiapkan penyuluhan pada hari sabtu, 27 Juli 2019 kami sudah mempersiapkan mulai dari buku panduan, produk akhir pupuk, alat dan bahan untuk demonstrasi. Sekilas mengenai pupuk kompos yakni lebih sederhana dimana bahan yang dibutuhkan berasal dari bahan organik dan makhluk hidup yang telah di dekomposisi dan difermentasi sehingga dapat melengkapi unsur hara tanah gambut seperti kandungan NPK meskipun persentase nya masil kecil. Sambil berbagi ilmu dan bertukar informasi dengan warga desa Sialang pasung tentang tata cara pembuatan pupuk kompos organik.

oleh : Risnia Erma Yuliana

Pengembangan Potensi Perikanan Desa Sialang Pasung

Hasil perikanan yang diperoleh para nelayan desa Sialang Pasung pada umumnya akan langsung dijual ke konsumen di desa Sialang Pasung maupun di Selat Panjang. Namun ada kalanya hasil tangkapan para nelayan ini tidak habis terjual dan menyebabkan hasil perikanan tersebut tidak segar lagi. Di desa Sialang Pasung, hasil tangkapan nelayan seringkali berlimpah terutama udang rebon.

Namun sayangnya udang rebon segar tidak memiliki nilai ekonomis yang tinggi sehingga para nelayan lebih sering mengolahnya menjadi udang kering.
Pengolahan hasil perikanan di desa Sialang Pasung masih sangat sedikit. Adapun untuk hasil olahan yang dijual masih sebatas pengolahan ikan asin dan kerupuk ikan. Untuk meningkatkan keahlian para nelayan dalam mengolah hasil perikanan maka Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Riau mengadakan pelatihan pengolahan dan pengemasan hasil perikanan pada Senin, 29 Juli 2019 terutama untuk pengolahan udang rebon agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi dan meningkatkan daya beli konsumen. Adapun pelatihan yang dilakukan yaitu tentang proses pembuatan nugget dan bakso yang ditaja langsung oleh Dosen Perikanan dan Ilmu Kelautan, Ibu Teten Suparmi dengan ketua tim Ibu Nursyiwarni.

Kegiatan pelatihan ini dihadiri oleh ibu-ibu yang mayoritas suaminya bekerja sebagai nelayan. Dalam pelatihan ini dilakukan kegiatan demonstrasi pembuatan produk pengolahan nugget dan bakso ikan. Para ibu bersikap antusias dan mengikuti jalannya pelatihan dengan baik. Selain dari segi pengolahan, para ibu juga dilatih untuk melakukan pengemasan dan teknik pemasaran produk agar produk yang dihasilkan lebih dikenal masyarakat luas.

Diakhir acara pelatihan, para ibu diberikan beberapa sampel yang telah jadi dan untuk menarik minat untuk mengembangkan produk perikanan yang diperoleh. Selain itu, terdapat juga beberapa agenda lain dalam pelatihan ini yaitu adanya rencana pembentukan kelompok usaha dan pemberian beberapa alat produksi sebagai salah satu modal usaha para ibu di desa Sialang Pasung oleh Tim Pengabdian Universitas Riau.

Aditya Rachman Aliunputra

Crew Sialang Pasung

Jantung Perikanan Desa Sialang Pasung

Pemandangan dari Pondok Gema
Sialang Pasung merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Rangsang Barat dan letaknya cukup strategis karena berada di lalu lintas penyeberangan dari Ibukota kabupaten Meranti (Selat Panjang) ke desa-desa yang berada di Pulau rangsang terutama ke kecamatan Rangsang barat. Letaknya yang dekat dengan wilayah perairan memungkinkan sebagian besar penduduk Sialang Pasung bermatapencaharian di bidang perairan seperti nelayan, pengolah ikan asin, dan penyeberangan kempang (kapal penyeberangan dari Sialang Pasung menuju Selat Panjang dan sebaliknya).

Salah satu daerah di Sialang Pasung yang paling banyak menyuplai hasil perikanan baik berupa ikan segar maupun ikan yang telah diolah yaitu suatu tempat yang biasanya warga Sialang Pasung menyebutnya dengan Gema yang berada di Dusun II Sialang Pasung. Letak Gema sendiri berada di pinggiran laut dengan pondok-pondok kayu yang kokoh sebagai persinggahan para nelayan sebelum membawa hasil perikanannya ke Selat Panjang untuk dijual.


Sebelum para nelayan membawa hasil perikanan ke Selat Panjang, hasil perikanan yang diperoleh akan disortir terlebih dahulu di Gema dan biasanya warga Sialang Pasung akan menunggu para nelayan untuk membeli hasil perikanan sebelum dijual ke Selat Panjang. Adapun hasil perikanan yang sering di peroleh nelayan yaitu ikan lomek, udang berduri, udang merah, kepiting rajungan, ikan langgai atau layur, ikan tenggiri, dan sotong.


Ikan Lomek merupakan salah satu jenis ikan yang menjadi favorit warga Sialang Pasung. Ikan Lomek memiliki ciri-ciri fisik ; tidak bertulang keras, berwarna hampir transparan, dan memiliki gigi-gigi yang tajam pada rahangnya dan rahang bagian bawah lebih panjang dari rahang atas. Meskipun begitu, ketika diolah ikan lomek memiliki rasa yang enak dan biasanya di Sialang Pasung ikan lomek sering diolah menjadi asam pedas.

Novi Astria

Crew Sialang Pasung