Ada 17 goals yang tertera dalam blue print SDGs (Sustainable Development Goals) yang di keluarkan oleh PBB, sebagai sebuah usaha untuk membangun dunia secara menyeluruh dan berkesinambungan, sehingga tercipta sebuah tempat yang aman dan meningkatnya taraf hidup yang merata di seluruh dunia.
Tujuan nomor 6, Clear water and Sanitation,memastikan ketersediaan air bersih bagi seluruh manusia. Akses air yang mudah dan terjamin, menjadi satu visi yang besar bagi kelangsungan hidup mahluk bumi.
Bumi yang terdiri dari 2/3 lautan mungkin membuat sebagian orang berfikir bahwa air tidak akan pernah habis. Belum lagi dengan fenomena global warming yang menambah volume air bumi membuat statement “Earth soon will dry out.” menjadi semakin terdengar sebagai suatu hal yang ‘gila’ bagi beberapa orang.
Let me enlightens some of you who have the kind of thoughts. Sit tight, put your seatbelt on.
KKN itu sulit.
Akses jalan yang susah, sinyal 4G yang hanya ada di beberapa sudut tertentu, listrik yang belum 24 jam dan juga akses air bersih.
Desa Sialang Pasung merupakan desa pertama yang akan kau temui setelah mendarat di pelabuhan Kempang Kepulauan Meranti. Ketika air laut pasang di bulan 12, Desa ini berubah menjadi negeri terapung karena luapan air laut yang cukup generous
Ini dan beberapa hal lainnya membuat akses terhadap air bersih semakin sulit untuk didapatkan.
Dua minggu pertama aku dan Crew Sialang Pasung menetap di rumah bapak Kepala Desa, di dusun satu, daerah laut. Seminggu sebelum kedatangan kami desa di guyur hujan lebat, sehingga tank-tank penguin orens raksasa terisi air hujan bersih yang bisa kami gunakan di hari pertama. Ketika itu, sulitnya mendapatkan air bersih belum kami rasakan secara nyata.
Namun, ketika hari berganti dan hujan tak juga turun, sumur mulai mengering, tank-tank orens pun terkuras habis, aku dan teman-teman mulai panik. Ah, ini dia. Ini dia.
Rumah bapak kepala desa yang ketika itu kami tempati memang memiliki sumur bor, namun air yang di tarik si mesin merupakan air payau, bewarna, dan lengket ketika di gunakan untuk mandi. Pilihan untuk membeli air pun muncul ke permukaan. 10 galon air dihargai 5000 rupiah, 10.000 jika menggunakan jasa antar jemput. Pikiran menghemat uang pun membuat kami memilih untuk menggunakan jasa pengangkutan sendiri, para Crew laki-laki pun mengangkat galon demi galon air di bawah terik matahari yang menyengat. Keringat mereka yang jatuh hari itu, menjadi awal cerita kami dan langkanya sumber air bersih di Desa Sialang Pasung.
Ketika pindah ke posko yang telah ditentukan, gedung BUMDES di dusun 5, kami dihadapkan dengan masalah lain. Hujan yang tidak juga turun hingga minggu ke-4, membuat rindu kepada keran satu tap semakin terasa. BUMDES yang sepertinya sudah lama tidak dioperasikan tidak memiliki sumber air bersih yang terjaga. Satu-satunya sumur di belakang gedung sudah dipenuhi oleh sampah plastik dan mengandung air merah yang mengingatkanku dengan sebuah minuman bersoda Caco-calo.
Sekiranya tubuhku menjerit melihat keadaan itu, tidak terbayang menyiramkannya ke kulit. Ah, tipikal anak kota, bisik hati kecil. Namun, tak kupungkiri, sangat enggan rasanya ketika itu menyentuh permukaan air gelap itu.
Air merah itu, kawan, merupakan salah satu air terbersih di Desa Sialang Pasung, tidak berasa, tidak berbau, hanya berwarna.
Hanya berwarna. Digunakan untuk mandi. Hanya berwarna. Digunakan untuk mencuci. Hanya berwarna. Bahkan digunakan untuk konsumsi. Hanya berwarna.
Hanya bewarna.
“Disini kami selalu beli air kak, air payau, lengket di badan. Syukur mike-kamu dalam bahasa daerah-di dusun 5 dapat air bersih, senang, tak payah.”
Aku terheran, karena beraktivitas dengan air merah tidak termasuk ke dalam hal yang aku antisipasi. Akses air bersih yang sangat mudah di Pekanbaru membuatku semakin tersadar bahwa banyak daerah, tempat diluar sana yang kesulitan dalam mendapat air bersih.
Things like these matters. Bukan dengan membiasakan diri karena tidak akan adanya perubahan, namun lebih kepada usaha untuk membenahi. Aku yakin, warga desa Sialang Pasung pun desperate untuk mendapatkan akses air bersih yang mudah, bukan hanya tampungan air hujan yang hanya bertahan dua hingga tiga hari.
Oleh : Nabila Hanum