Cuma Mengkritik Aja, Gak Ada Curhatannya Kok..

Did somebody know about tranquillity of tropical island just like common Hawaiian stereotypes? Ya! Bagi warga dataran tinggi sepertiku dan tidak pernah ke pesisir yang tergolong remoted area yang juga tidak mempunyai akses darat, aku sempat membayangkan alam pantai yang belum tersentuh teknologi.
Kepulauan Meranti, sebuah kabupaten berbentuk archipelago dan merupakan akronim dari nama-nama pulau yang ada, yaitu Merbau, Rangsang, dan Tebingtinggi, yang secara geografis sendiri, menurutku seharusnya masih merupakan pulau Sumatera, karena masih merupakan hasil sedimentasi sungai Siak yang membentuk estuary di muaranya. Well, bagi penganut paham Shakespeare, yang mengatakan “apalah arti sebuah nama” sepertiku ya fine-fine aja lah.
Kembali ke stereotip Hawaii itu lagi, ternyata ekspektasiku sangat jauh berbeda dari realita. kota Selatpanjang sendiri bisa dibilang cukup developed untuk ukuran sebuah ibukota kabupaten. First impression-ku pada kota ini yang pertama terucap pada kalimat ”njirrr, ni masih di Indonesia aku kan?”. Berbagai arsitektur Tionghoa yang unik menghiasi kota baik berupa vihara-vihara, gapura, maupun aksara-aksara pada pertokoan, bahkan masih jauh lebih menarik daripada kawasan Chinatown di Medan. “serasa di Guangdong aku bah!” batinku saat itu. Tetapi tidak melupakan estetika dari arsitektur khas Melayu yang berupa selembayung itu sehingga aku masih bisa notice kalau ini masih di Riau dan pastinya menambah keunikan kota ini. Ya, menurutku, secara demografis sendiri, perbandingan ras Melayu (baik itu suku Melayu maupun para perantau dari luar daerah) dan peranakan Tionghoa disini cukup equal walaupun secara pribadi aku belum ngecek langsung ke biro sensus kotanya, hehe. Walaupun tidak ada mall maupun department store. Masih cukup banyak swalayan modern yang menghiasi jalanan kota. Salah satunya adalah Walmart yang akhirnya menjadi tempat langganan kita nongkrong satu kelompok.
Lokasi desa kami sendiri, yaitu Sialang Pasung, berada di pulau Rangsang yang beruntungnya terletak cukup dekat dari kota Selatpanjang. Karena masih minimnya infrastruktur disini, maka tidak heran jika kepemilikan mobil disini tidak ada. Sudah terbiasa dengan budaya siapa loe kau siapa gue awak Medan, bukan Jaksel. First impression-ku lagi pada desa ini adalah budaya tutur sapa dan ramah tamah masih umum dipakai bahkan kepada orang yang tidak dikenal sekalipun.
Oh ya, belum kenalan udah sok akrab pulak awak yakan, wkwkwkwk! namaku Muhammad. Aku sendiri asalnya dari Medan. Ga di Medan-nya sih, tapi masi dekat lah sekitar 15 menit dari gapura kota dah nyampek. Soalnya kalok kubilang pun nama daerahku gak bakal tau kelen yang bukan orang sini yakaaaan. Binjai nama kotanya. Ibarat Tangerang-nya Jakarta gitu. haaaa gak asing nya kelen sama nama Binjai tu kaan? Iyaaa nama jenis RAMBUTAN itu! Iyanya awak kesal tu orang tau Binjai tu cumak nama rambutan doang, padahal nama kota nya itu. Rambutannya aslinya dari sini makanya namanya Binjai. Kek awak taunya Garut itu nama jenis dodol kaan, bukan nama kotanya. Kan ada paok-paoknya orang tu kurasa muak pulak awak kadang yakaaaan!!!!
Kalau dari pandanganku pada desa ini atau bahkan jika perspektifku pada keseluruhan pulau Rangsang, sebenarnya potensi dan opportunity desa ini dalam segi ekowisata bisa kukatakan sangat signifikan. Pertama, menurut sumber yang kubaca, Kepulauan Meranti bersama kabupaten Siak dan Bengkalis termasuk pada segitiga emas Malaysia-Singapura-Indonesia sehingga jika bukan disebabkan infrastruktur yang memadai, desa ini harusnya tidak terkesan remoted. Seperti yang kutulis sebelumnya bahwa kendaraan roda 4 di pulau ini sangat langka. Oke, andai kausalnya adalah pengurangan emisi atau apalah itu. Tapi alasan sebenarnya adalah kurang memadainya sarana transportasi di sini. Disekitar Sialang Pasung ini cukup banyak kawasan Mangrove yang dapat kukatakan cukup indah dan andai dikelola dengan baik, bisa jadi income desa ini akan meningkat tajam seperti desa Ponggok di Jawa Tengah yang memanfaatkan kelebihan airnya. Maupun membangun konsep waterfront park yang berkonsep eco-friendly beserta seaside foodcorner yang dapat dikelola oleh warga lokal. Secara kulihat bahwa lokasi desa ini sangat strategis karena dekat dengan pusat komersial kabupaten dan memiliki pelabuhan sendiri.
Ketinggian ngayal kau wakkk! Iyalah paok ko kira tuh butuh modal berapa? Emang ada investornya? Lah kau tengok lah banyak sampah gitu dibawah pelabuhan, yg mau mungut siapa? Jembatan aja gak ada. Jalan rada-rada pecah! Yodahlah komen teros sampek Lucinta Luna pigi solat jum’at !
Well, Singapura pun dulunya masih berupa pulau berawa yang kumuh dan extremely undeveloped sampai Lee Kwan Yeu turun tangan dan who knows kini menjadi sebuah negara dengan 5 besar income percapita tertinggi dan salah satu kota dengan land value termahal di dunia. Berkat pengelolaan SDM yang baik. Ya! Negara yang bahkan tidak lebih luas dari pulau Rangsang itu hanya mengandalkan kualitas SDM dan lokasinya yang strategis. Mereka TIDAK punya sumber alam apapun bahkan untuk mengeruknya! Totally they didn’t! Disitulah fungsi kita turun temurun melaksanakan KKN ini, yaitu mengembangkan desa ini terutama dari potensi alam dan manusianya.
Aku percaya bahwa suatu saat desa ini pasti akan mencapai puncak utopia-nya. Yap, ditambah keramahtamahan penduduknya yang sangat luarbiasa terutama ibu depan rumah Pak kades yang sangat murah hati ntah 30 tahun lagi aku membuka smartphone-ku mencari kolom rekomendasi pada destinasi wisata, disana tertulis pulau Rangsang atau bahkan Sialang Pasung. Semoga saja…

Oleh : Muhammad Fauzie Lubis

Unknown's avatar

Author:

Blog Kukerta Tematik Universitas Riau 2019 di Desa Sialang Pasung

Leave a comment